Football Lottery App_Legal online casino_Baccarat formula play_Baccarat platform_Baccarat betting

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Gamblingrules

KOnline sports bettingaOnlinOnline sports bettinge sports bettinglau kamu happy, pikiranmu nggak akan butek lagi via unsplash.com

Entah disimpan dalam dompet hingga lecek dan kucel atau dalam memori ponselmu, mulai sekarang kamu perlu menyimpan foto kedua orangtuamu. Simpanlah satu foto mereka sebagai distraksi kala kamu tengah merasa frustasi dan nggak ada orang yang bisa mengerti. Sebelum ketok palu memilih menyerah, coba pandangi foto ayah dan ibu yang kamu simpan itu. Cukup pandangi saja, maka hati kecilmu akan memberikan pendapatnya.

Kamu boleh bilang ini distraksi paling klise. Tapi percaya atau tidak, dengan mengingat tujuan awalmu, kamu bisa jauh dari pilihan menyerah. Gagal naik jabatan tak apa. Toh tujuanmu kerja di sini untuk mendapatkan penghasilan tetap dan mengembangkan diri. Gagal meraih beasiswa nggak apa-apa. Ingat tujuanmu dulu untuk belajar lagi, bukan untuk merutuki diri?

Lalu pilihan apa yang bisa diambil selain menyerah? Lelah banget kalau harus lanjut berjuang!

Distraksi yang paling sulit, tapi cukup ampuh untuk menjauhkanmu dari kata menyerah. Kalau kamu sudah penat sekali dan tak tahu lagi harus apa selain menyerah, mungkin kamu perlu menengok ke pencapaianmu beberapa waktu ke belakang. Lihatlah betapa kamu sudah hebat telah berada di titik ini. Apa nggak sayang kalau apa yang udah kamu genggam, ternoda hanya karena satu kali menyerah ini?

Pupusnya harapan naik jabatan ini menyita seluruh pikiranmu. Rencana-rencana indah yang disusun sejak awal, terpaksa direlakan. Ganti mobil di gajian kedua, beli tas (lumayan) mahal biar naik kelasnya, sampai bisa pulang saat matahari masih keliatan.

Kapan ya bisa beli tas seharga mobil? Pasti bakal keliatan cantik, kalau tanganku menenteng tas itu.

Kalau tak mau terus merasa tertekan dan sakit karena gagal, mencari distraksi bisa kamu jadikan pilihan. Tapi ingat ya, distraksinya ke hal-hal yang ada manfaatnya aja. Kalau tidak, bukannya menyelesaikan masalah tapi justru cari masalah baru lagi. Hayo, kamu udah cukup matang kan untuk mencari distraksi mana yang bisa kamu lakukan?

Kadang, pilihan untuk menyerah hanya muncul ketika kamu lagi gegabah dan banyak pikiran. Coba deh sekarang kamu melipir sejenak. Lalu lakukan kegiatan yang kamu suka. Karaoke, nonton film, sampai sesederhana tidur siang dulu. Dengan melakukan hal-hal yang kamu sukai ini, pikiranmu bisa sedikit tenang. Pikiran yang tenang itu kelak akan membuka pilihanmu yang lain dan tak hanya menyerah.

Selain itu, mengingat tujuan awalmu pun bisa membuatmu melihat kemungkinan lain selain menyerah. Gagal naik jabatan, kamu tetap bisa mengembangkan karirmu. Atau bahkan coba-coba buka usaha sendiri. Gagal dapat beasiswa, kamu bisa cari alternatif lainnya.

Berbagi dengan orang lain juga bisa kamu jadikan distraksi. Berbagi cerita bisa ke siapa saja, asalkan orangnya benar-benar kamu percaya. Seperti pacar, sahabat, atau bahkan keluarga. Siapa tahu pikiranmu tak hanya sekadar teralihkan dari pilihan menyerah. Tapi juga dapat pandangan baru dari pendapat mereka yang berusaha membantumu.

Kamu gagal mendapatkan promosi naik jabatan. Upayamu, siang malam lembur demi presentasi seakan sia-sia. Belajar lagi soal perusahaan biar punya dasar sampai rela menghamburkan ratusan ribu tiap hari untuk hangout bareng calon teman sedivisi. Semua lenyap ketika bukan namamu yang diumumkan naik jabatan. Tapi temanmu, yang nggak melakukan apapun dan diam-diam streaming Youtube, sampai pura-pura sakit biar bisa kelayaban.

Gagal itu manusiawi. Yang tidak manusiawi, ketika kamu gagal lalu tak mau mencoba lagi.

Dalam hidup, selalu ada dua kemungkinan yang menyertai. Ada hitam dan putih. Siang dan malam. Kesuksesan serta kegagalan. Bicara soal kegagalan, memang tak enak sekali. Ingin rasanya merutuki hidup ini saat apa yang sudah diperjuangkan, tak sesuai harapan. Saat gagal menyapa, pilihan terdekat adalah menyerah saja. Nggak perlu tenaga, nggak perlu mikir lama. Tapi menyerah jelas akan membuatmu dapat predikat baru, pecundang.

Kamu nggak selalu harus kembali melanjutkan langkah atau bahkan berlari. Tarik nafas sejenak, lalu hembuskan. Cari distraksi agar pikiranmu nggak selalu tertekan. Banyak sekali hal-hal yang bisa kamu jadian distraksi di dunia ini. Bukan narkoba atau hal-hal yang merugikan. Coba deh tengok hal-hal di bawah ini. Siapa tahu bisa membuka matamu bahwa ada distraksi seru yang bisa menjauhkanmu dari pilihan menyerah ini.

Sebelum berpikir untuk menyerah, atau resign untuk kasus ini, coba deh tinggalkan barang lima menit laporan laknat itu. Copot earphone di telinga dan dengarkan interaksi di sekitarmu. Dengarkan candaan garing tapi selalu mampu buat teman-teman kantormu tertawa lepas. Sesampah apapun candaan mereka, yakinlah bahwa sepersekian dari stresmu bisa dilepas ke udara. Kamu pun tak merasa sendiri. Ternyata ada mereka, kaum cungpret seperti dirimu yang selalu tunduk oleh revisi.

Laporanmu bulan ini dikatakan sampah oleh atasan. Padahal dua minggu sudah kamu kerahkan semua waktu dan tenaga untuknya. Terlintas di pikiran, resign aja apa? saat lagi-lagi atasan minta revisi. Sebab kamu merasa tak adil. Hidupmu hanya dihabiskan di kantor dan memperbaiki laporan yang terus saja minta revisi.

Tuh coba lihat! Ayah dan ibu yang sudah tua dan keriput saja masih gigih berusaha. Masih diam-diam mendoakanmu. Nggak malu dengan mereka kalau kamu menyerah di titik ini? Nggak kasihan melihat apa yang sudah mereka berikan dan hanya kamu hentikan di sini?

Kamu merasa gagal jadi dirimu sendiri. Naik jabatan aja gagal didapatkan. Mau jadi apa di masa depan? egomu bersuara begitu. Tapi cobalah tengok ke bawah. Maka hatimu kelak akan berkata dengan damainya, bersyukur aja. Toh kamu masih punya kerjaan yang menghasilkan tiap bulannya. Meski gajinya masih sama, kamu nggak usah capek-capek ngelamar kerja kayak dulu, bukan?